Amar Makruf yang Hilang: Ketika Judi Haram Lebih Berani dari Penjaga Moral

Golden Zone hingga Vivo Zone: Kota Islami, Surga Judi Ketangkasan?

Matakasus.com, Pangkalpinang – Pangkalpinang hari ini seolah sedang memainkan sandiwara ganjil: kota mayoritas Muslim, tapi denyut permainan judi ketangkasan justru disinyalir berdetak bebas, terang, dan nyaris tanpa rasa takut. Nama-nama seperti Golden Zone, Galaxy, dan Vivo Zone bukan lagi sekadar bisik-bisik lorong, melainkan pengetahuan umum yang beredar dari warung kopi hingga ruang obrolan warga. Kamis (29/1/2026).

Ironinya, semua itu terjadi di ruang kota yang sama dengan masjid-masjid megah, baliho dakwah, dan spanduk moralitas. Judi—yang dalam pandangan agama jelas haram dan mudharat—justru seperti menemukan “zona nyaman” di Pangkalpinang. Pertanyaannya: siapa yang sedang menutup mata, dan siapa yang sengaja membiarkannya?

Sorotan tajam mengarah pada Aparat Penegak Hukum (APH). Publik bertanya, mengapa tempat-tempat yang diduga menyelenggarakan judi ketangkasan ini tetap beroperasi? Apakah karena kurang bukti, kurang nyali, atau ada “hal lain” yang tak pernah dijelaskan ke ruang publik? Ketika hukum mulai semu kecurigaan tumbuh subur saat moral profesi mereka diuji dengan undang-undang negara dan agama.

Tak kalah sunyi adalah sikap Pemerintah Kota Pangkalpinang. Perizinan usaha, zonasi lokasi, hingga pengawasan aktivitas hiburan—semuanya berada dalam koridor kewenangan pemerintah daerah. Namun hingga kini, tak tampak langkah tegas yang mampu memutus dugaan praktik yang meresahkan ini. Saat awak media menginformasikan langsung melalui pesan WA ke Prof Udin selaku Wali Kota Pangkalpinang, hanya dibalas dengan jawaban: “Oke, terima kasih info e,” ujar Prof Udin.

Yang paling mengusik nurani justru datang dari barisan ormas dan lembaga Islam—MUI, NU, Muhammadiyah, FPI—serta himpunan mahasiswa dan cendekia seperti HMI dan KAHMI. Dalam tradisi amar makruf nahi munkar, suara mereka seharusnya menjadi alarm moral. Namun publik justru menyaksikan keheningan yang memekakkan. Surat peringatan tak kunjung dikirim, tekanan moral tak terdengar menggema.

Bangka Belitung adalah tanah Melayu yang religius. Jika judi disinyalir hidup subur sementara para penjaga moral memilih diam, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar hukum—melainkan martabat sosial dan keberanian iman. Sejarah akan mencatat: siapa yang melawan, dan siapa yang memilih aman. (MK/*)