DESKRIPSI_GAMBAR DESKRIPSI_GAMBAR DESKRIPSI_GAMBAR < DESKRIPSI_GAMBAR

Kunjungan Duta Minerba 2025: Proses Tambang, Reklamasi, dan UMKM PT TIMAH Tbk Buka Wawasan Baru

BANGKA — Rombongan Duta Minerba Goes to Site 2025 berkesempatan meninjau langsung berbagai aktivitas operasional PT TIMAH Tbk, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan lingkungan dan program pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang didampingi jajaran Kementerian ESDM ini menghadirkan pengalaman lapangan bagi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Senin (8/12/2025).

Kunjungan diawali dengan observasi ke Kapal Isap Produksi (KIP) PT TIMAH Tbk di perairan Bangka. Para peserta melihat tahapan penambangan laut, mulai dari pengambilan material, proses pencucian, hingga sistem pengawasan keselamatan kerja. Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman berada di area offshore menjadi pengalaman pertama yang membuka perspektif baru terkait operasional pertambangan yang selama ini hanya mereka pelajari dari teori.

Rombongan kemudian diarahkan ke Division Processing and Refinery PT TIMAH Tbk untuk menyaksikan proses peleburan bijih timah menggunakan teknologi TSL Ausmelt, sebuah metode modern yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan.

Selama tiga hari berada di Bangka, para peserta juga mendalami bagaimana perusahaan mengelola kawasan pascatambang melalui proyek reklamasi di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. Di lokasi ini, mahasiswa diajak menyaksikan pembibitan tanaman, rehabilitasi lahan, hingga kegiatan penyelamatan dan perawatan satwa liar sebelum dilepasliarkan kembali.

Gera Nathaniel Lomo, mahasiswa Teknik Geologi dari UPN Veteran Yogyakarta, mengungkapkan bahwa kunjungan ke KIP menjadi momen paling membekas. Ia menjelaskan bahwa apa yang ia lihat secara langsung sangat berbeda dari gambaran publik yang kerap menganggap pertambangan sebagai aktivitas yang hanya menghasilkan kerusakan.

Sebelum berkunjung, Gera mengaku memiliki persepsi serupa masyarakat awam. Namun setelah meninjau seluruh rangkaian kegiatan, ia melihat upaya sistematis yang dilakukan perusahaan dalam memulihkan lingkungan dan membangun ekonomi masyarakat sekitar. Ia berharap masyarakat dapat bersikap objektif dengan melihat kondisi lapangan sebelum menarik kesimpulan.

Pandangan serupa disampaikan Arina, mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia. Ia menyebut pengalamannya berada di kawasan reklamasi sebagai titik balik dari pemahamannya terhadap sektor pertambangan. Ia terkesan dengan penanganan satwa yang dilakukan secara terukur sebelum dilepasliarkan, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Selain aspek lingkungan, para peserta juga mengunjungi UMKM mitra binaan PT TIMAH Tbk. Mereka melihat bagaimana pelaku usaha lokal memperoleh perangkat produksi, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas usaha. Arina menilai dukungan tersebut membuka peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat.

Program Duta Minerba Goes to Site menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai praktik pertambangan berkelanjutan. Testimoni para peserta diharapkan dapat memperluas wawasan publik tentang bagaimana proses pertambangan yang terukur dapat berjalan seiring dengan pemulihan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. (MK/*)