Matakasus.com, Pangkalpinang – Kerusakan jalan nasional pada sejumlah ruas strategis di Bangka kembali menuai sorotan publik. Temuan lapangan menunjukkan penambalan jalan (road patching) yang tampak tidak menyatu dengan lapisan lama, bertekstur kasar, serta berubah warna hanya dalam waktu singkat. Di beberapa titik, road stud atau mata kucing jalan juga terpantau tidak berfungsi optimal saat malam hari karena tidak memantulkan cahaya, sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan. Rabu (18/2/2026).


Saat dikonfirmasi, Manahan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menyampaikan bahwa anggaran pemeliharaan dan perawatan jalan nasional yang ia kelola hanya sebesar Rp600 juta. Pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan lanjutan di tengah kondisi lapangan yang menunjukkan kerusakan memanjang dan tambalan berulang pada lebih dari satu ruas jalan nasional.
Secara teknis, pekerjaan pemeliharaan jalan nasional menuntut tahapan yang tidak sederhana. Penambalan ideal harus melalui pembersihan menyeluruh, pemilihan material sesuai spesifikasi—baik hot mix untuk ketahanan jangka panjang maupun cold mix untuk kondisi tertentu—hingga pemadatan yang memadai agar lapisan baru menyatu dan tahan terhadap air. Selain itu, pemasangan road stud seharusnya menggunakan material reflektif yang teruji agar berfungsi sebagai perangkat keselamatan malam hari.
Dengan kondisi ruas yang dilaporkan rusak dari Jembatan Selindung hingga SPBU Selindung, bahkan berpotensi berlanjut sampai Sungailiat–Belinyu, publik mempertanyakan apakah Rp600 juta tersebut cukup untuk menjamin kualitas, keselamatan, dan keberlanjutan jalan nasional. Apalagi, di sejumlah titik tidak ditemukan papan informasi proyek yang memuat nilai anggaran, metode kerja, maupun pelaksana kegiatan.
Situasi ini menempatkan tanggung jawab besar pada PPK sebagai penanggung jawab mutu pekerjaan.
Keterbukaan informasi anggaran menjadi krusial agar publik mengetahui ruang lingkup pekerjaan, panjang ruas yang ditangani, serta item apa saja yang dibiayai. Tanpa transparansi dan pengawasan teknis yang ketat, pernyataan anggaran Rp600 juta berisiko dipersepsikan sebagai pembenaran atas pekerjaan tambal-sulam yang jauh dari standar keselamatan jalan nasional. (MK/*)













