DESKRIPSI_GAMBAR DESKRIPSI_GAMBAR DESKRIPSI_GAMBAR < DESKRIPSI_GAMBAR

Panen Nila Salin Capai Rp30 Juta, Pemkab Bangka Tengah Dorong Perluasan Kolam Budidaya

Oplus_131072

KOBA – Upaya pengembangan sektor perikanan budidaya di Kabupaten Bangka Tengah kembali menunjukkan hasil menggembirakan. Melalui kegiatan panen bersama yang digelar Dinas Perikanan Bateng di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bepanen Lanjut Agik (BLA) Desa Terentang III, Jumat (05/12/2025), komoditas nila salin terbukti memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.

Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, hadir langsung menyaksikan panen ikan nila salin milik Isroni selaku Ketua Pokdakan BLA. Ia menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kelompok tersebut yang mampu menghasilkan panen sebesar 1,2 ton hanya dalam waktu tiga bulan.

“Hari ini Pak Haji Is berhasil memanen sekitar 1,2 ton nila salin. Alhamdulillah, dari panen ini beliau sudah memperoleh lebih dari Rp30 juta. Harga jualnya sekitar Rp30 ribu per kilogram oleh pengepul. Mudah-mudahan membawa keberkahan,” ujar Algafry.

Bupati menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi antara pembudidaya dan Dinas Perikanan Bateng yang terus memberikan pendampingan. Ia juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk memperluas dukungan benih bagi para pembudidaya.

“Ke depan, kita akan menambah jumlah benih yang ditebar. Jika sebelumnya 7.000 benih, maka nanti minimal 15.000 benih akan kita salurkan,” tambahnya.

Algafry turut menyinggung keterkaitan program budidaya ikan dengan kebijakan Pemerintah Pusat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, suplai protein ikan dari kelompok pembudidaya di Bangka Tengah akan menjadi bagian penting dalam mendukung program tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Bateng, Imam Soehadi, menjelaskan bahwa Pemkab tengah fokus pada pengembangan empat komoditas air payau: nila salin, kakap putih, udang vaname, dan kepiting bakau. Tahun ini, pihaknya telah mengalokasikan tiga paket sarana produksi senilai Rp50 juta per paket guna memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, terutama pada masa paceklik.

Di sisi lain, Isroni mengungkapkan bahwa nila salin relatif mudah dirawat dan memberi keuntungan yang stabil. “Dari 7.000 benih, kami hanya menggunakan pakan sekitar satu ton dan masih tersisa. Ke depan kami berencana menambah kolam baru. Pemasaran juga lancar karena ada tiga pengepul yang rutin mengambil 100 kilogram per hari, bahkan lebih saat akhir pekan,” tuturnya.

Dengan potensi keuntungan yang terus meningkat, budidaya nila salin mulai menjadi salah satu pilihan usaha yang diminati nelayan dan warga pesisir Bangka Tengah. (MK/*)